Meniti Pagi
Sunyi sepi mengisi ruang subuhku dalam secercah sinar putih di ufuk timur menandakan tidak lama lagi akan berkuasa raja siang hari sang matahari. Kemudian diiringi syair nyanyian pagi oleh kicauan burung burung yang mulai beranjak mencari rezeki dalam ekosistem alam ciptaan Sang Pencipta. Aku duduk mengalahkan sejuta rasa kantuk yang menundukkan mata dan mengajak untuk kembali berbaring.
Ku singkirkan selimut untuk memaksa kedua kakiku berjalan menuju dinginnya air di waktu subuh. Aku berwudhu dan kemudian melakukan dua rakaat sebagaimana mereka yang melakukannya untuk mendapatkan kebaikan yang lebih baik dibandingkan dunia beserta isinya. Aku terduduk mencari kekhusuan dalam memulai pagi demi keridhaan-Nya. Akankah hari ini aku akan mendapatkan sesuatu yang baru yang itu bermanfaat bagi diriku dan juga kepada orang lain, sebuah pertanyaan yang aku tujukan kepada hatiku agar nantinya otakku bisa menjawab segala keingintahuanku kepada hal hal baru yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya.
Aku akan menjadi seorang buta pada hari ini yang akan berusaha mencari jalan menuju suatu tempat yang tidak pernah dilalui sebelumnya. atau aku akan menjadi seorang bisu yang akan berusaha berbicara panjang lebar menjelaskan sebuah penemuannya. atau seperti seorang cacat yang menggunakan kursi roda untuk mendaki sebuah tanjakan. Aku ingin memulai hari dengan sebuah tekad. Laksana seorang tentara baru dibawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol yang penuh semangat dan tekad untuk menuju medan perang.
Ku rapikan tumpukan buku buku yang berserak di meja sisi tempat tidurku. Menatap buku buku tersebut seakan akan mengatakan kami butuh ditemani. Biarlah untuk sesaat tapi itu bermanfaat. mungkin itulah rintihan dari mereka atas diriku.
Kemudian aku menyalakan komputer yang tentunya untuk memberi tahuu diriku informasi apa yang mendukung aktivitasku hari ini. Aku tidak akan memulai hari dengan berita kriminal ataupun berita bencana. Bukan karena aku ingin lari dari kenyataan dunia, tapi aku tidak ingin pagiku dirusak dengan pemikiran marah,sedih , kasian dan segala macam bentuk ungkapan emosional yang tidak diinginkan manusia. Berita berita itu hanya akan melobangi benteng tekad bulatku mengalahkan kebodohan, kemalasan dan kemiskinan. Bodoh tidak akan pernah berteman dengan rajin, karena ia hanya bersahabat dan akrab dengan malas.
Berteman dengan kemalasan hanya akan membawaku kepada kuburan mimpi. bersahabat dengan kebodohan hanya akan membuat aku tenggelam di kolam asa. Izinkan aku pergi dulu kawan.Mengejar awan makna untuk menumpahkan tinta di sebuah sudut bumi bernama saga unversity.
by Dani Hidayat
Owner3 tokoshafiyya and founder TEM
Filed under: sastra




