Wahai kawan, hingga begitu bernilainya nilai seorang
shahabat, hingga seseorang yang khawatir karena telah
membuat gelisah hati shahabatnya mengatakan :
Telah merembes air mata kesedihan. Membasahi setiap sudut
perasaan. Semua berasal dari kesalahpahaman. Hingga
shahabat larut dalam tangis rintihan
Duhai betapa menyesal diri. Karena kekasih telah
tersakiti. Dengan ungkapan yang menggelisahkan hati.
Hingga yang tlah sakit sulit tuk sembuh kembali
Wahai yang dulu kala ku sedih engkau yang menjadi kawan.
Ketahuilah kini kau tlah tersimpan. Dalam sebuah tempat
penyimpanan. Yang berhiaskan intan permata dan berlian
Wahai yang kini larut dalam kepenatan. Ketahuilah hati
kini kan slalu berdekatan. Walau kau berada jauh di
seberang lautan. Yang hidup penuh dengan kesahajaan
Wahai yang kini kegalauan menyelimuti. Usahlah kuatir,
‘kan ada yang slalu mencintai. Walau kesepian mungkin ‘kan
kau dapati. Di negeri yang bertaburan dengan kemilaunya
materi
Wahai kawan ketahuilah, jika teman itu mudah didapati,
maka seorang sahabat sejati akan sulit sekali untuk
dicari. Jika gelas pecah mudah untuk kita membelinya lagi,
maka ketahuilah hilangnya sahabat akan sulit mendapatkan
pengganti. Sahabat adalah sesuatu nilainya melebihi hiasan
yang paling indah. Jika kita kehilangan seorang sahabat
maka ketahuilah bahwasanya rasa sedih (bagi orang yang
telah kehilangan sahabat) melebihi sedihnya seseorang
tatkala kehilangan kendaraan yang paling mewah. Maka
jagalah sahabatmu …
Demikianlah, begitu bernilainya seorang sahabat. Dan
rupanya hanya sedikit hal yang bisa disampaikan. Karena
hamba takut salah bila kebanyakan. Semoga jalan kebaikan
senantiasa dimudahkan. Semoga pula yang menulis tulisan
senantiasa teringatkan. Sekian.
——————————————————–
diambil dari tulisan Abu Zaed [Yanu Widodo bin Muanam bin Sanuri]
Attanuniy
Filed under: sastra