Mr B.J Habibie

Pada awal 1950-an seorang guru Belanda di SMAK Dago, Bandung, mengisahkan ini: ada seorang murid cerdas yang mampu mengerjakan soal Fisika hanya dalam 20 menit ketika teman-teman lainnya menyelesaikan dalam 1 jam. Sungguh mengagumkan. Pelajar ini lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, dan dikirim ke Bandung untuk menempuh pendidikan lanjutan. Ketika masuk SMA Kristen Dago umurnya 15 tahun.

Setelah lulus ia melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Mesin.
Hanya beberapa bulan menempuh Tahap Persiapan Bersama (tingkat satu bersama – belum penjurusan) ibunya segera membeli devisa pemerintah dan mengirimkannya untuk melanjutkan ke RWTH Aachen, Jerman Barat, tahun 1955. Ayahnya meninggal ketika ia masih berumur 13 tahun, dan kehilangan figur ayah sejak di usia pencarian identitas adalah masa-masa tak stabil. Tapi sebagai anak yang ceria dan antusias, berduka adalah sebuah sikap hormat; namun yang lebih penting adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan memenuhi harapan ibunda.

Sesampainya di Jerman Barat, petugas imigrasi bertanya bidang apa yang akan ditempuhnya selama sekolah di Jerman. Dia mengatakan akan mengambil Fisika. Dengan ramah petugas itu menceritakan bahwa teknologi Jerman tengah menuju ke tingkat lebih tinggi, yakni membangun pesawat terbang yang canggih. Pertugas imigrasi menyarankan memilih salah satu: studi Fisika atau konstruksi pesawat terbang. Keduanya memiliki masa depan bagus. Tak disadarinya, di pintu imigrasi Jerman itu, awal kehidupannya dimulai: dia memutuskan mengambil bidang konstruksi pesawat terbang.
Selama studinya, hidup tak pernah mudah: dia harus berkomunikasi dalam bahasa Jerman kemanapun ia pergi; seringkali ia kelaparan di musim dingin dan hanya makan sebuah apel di malam hari lantaran uang saku dari ibunya sungguh terbatas; ia juga terbebani untuk terus lulus setiap mata kuliah yang diambilnya; ia harus memotivasi dirinya sendiri di tengah kesepian dan berusaha tidak cemburu dengan teman sejawat dari Indonesia yang mendapat beasiswa. 1955 -1960 sungguh masa-masa yang sulit baginya. Tahun 1960, dia berhasil mendapatkan gelar Diplom Ingineur dengan nilai 9.5 skala 10. Tahun 1965, dia memperoleh gelar Doktor Ingineur dalam bidang konstruksi pesawat terbang dengan nilai 10 (summa cum laude). Awalnya, thesis doktornya berkenaan dengan pesawat hipersonik (Mach 4 ke atas; Mach 4 = empat kali kecepatan suara, hampir 5000 km/jam), namun karena topik tersebut diambil alih profesor pembimbingnya, ia akhirnya menyelesaikan studi konstruksi kapal selam, yang secara struktural mirip dengan pesawat.

Setelah lulus doktor ternyata sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan karena Jerman Barat sangat ketat dalam memberikan surat ijin kerja (work permit) bagi orang asing. Hingga suatu hari ada sebuah perusahaan bernama Talbot yang mengadakan semacam sayembara dalam rangka mencari insinyur yang mampu mendesain gerbong kereta yang punya ruang lebih luas dan secara struktur sangat kuat. Dengan prinsip mendesain sayap pesawat terbang dan menurunkan struktur underfloor, ia mengajukan desainnya ke Talbot, dan sungguh mengejutkan: desainnya diterima! Sesuai janji Talbot, ia mendapatkan cukup uang untuk tetap tinggal di Jerman dan desainnya diproduksi 1000 gerbong!

Sementara itu, bidang-bidang tingkat lanjut mekanika terapan, seperti mekanika retak dan kelelahan material, berada pada fase awal penerapan di pabrik pesawat terbang. Kebetulan itu bidang yang dikuasainya. Pada awal 1960an, peneliti-peneliti di bidang mekanika retak dan kelelahan memiliki jargon besar: RETAK. Dalam literatur, masalah-masalah retak biasanya diselesaikan dengan pendekatan empirik (menguji material dan lumayan mahal). Pendekatan teoretik, yang dianggap lebih “murah”, biasanya terlampau sederhana dan simplistik (terlalu banyak asumsi). Perambatan retak adalah masalah penting dan sangat sulit memprediksi dengan tepat penyebab-penyebabnya.

Peneliti di Industri Pesawat Fokker, Belanda, menghabiskan 3 tahun untuk mencari penyebab retak pada bagian ekor pesawat produksi mereka. Doktor muda kita ini lalu datang ke Fokker dan membantu memecahkan masalah retak itu dalam waktu 6 bulan. Ia mampu mencari penyebab retaknya dan mampu menghitung perambatan retak hingga ke atom-atomnya. Sungguh kontribusi yang besar bagi Fokker, hingga banyak peneliti yang dianjurkan untuk belajar darinya mengenai retak. Sejak saat itu, dia dijuluki “Mr. Crack”.

Leave a Reply