Posted on July 4, 2008 by danihidayat
Melihat negeri sendiri dari negeri orang sudah pasti membawa sebuah wawasan baru yang juga bisa merubah pola pikir. Berdasarkan sifat otak manusia, kita akan mengenali sesuatu yang kita lihat baru kemudian menilai. Dalam proses menilai, sebuah penilaian juga akan dipengaruhi sekiranya kita melihat sesuatu yang baru. Karena pada umumnya kita akan menilai sesuatu yang kita lihat berdasarkan pembanding yang kita dapatkan setelah meilhat yang baru tersebut.
Hal ini telah saya alami sendiri ketika saya mulai mempelajari pola pikir orang jepang dan membandingkan dengan pola pikir yang saya dapatkan sebagai orang indonesia. Salah satu pengalaman saya adalah dalam hal pola pikir jepang pada kasus “menjaga perjalanan proses”. Adapun maksud dari “menjaga perjalanan proses” adalah lebih melihat kepada proses daripada waktu untuk mendapatkan hasil. Istilah “siapa cepat dia dapat” ternyata tidak diperbolehkan dalam dunia produksi Jepang. bahkan dalam hal pendidikan pun tidak membolehkan sistem akselerasi atau bahasa lainnya sistem percepatan, dimana untuk pendidikan sekolah dasar bisa diselesaikan dalam waktu 4 atau 5 tahun yang seharusnya 6 tahun dan untuk pendidikan menengah yang mana masa normalnya 3 dan 3 tahun bisa diselesaikan masing masing dalam waktu 2 tahun tergantung dari kemampuan dari siswa.
Pada kenyataannya sistem ini tidak diterima di jepang karena jepang melihat dari proses pematangan pikiran siswa. Bagaimanapun juga proses pembelajaran siswa sistem percepatan akan berbeda dengan siswa sistem standar. Singkat kata sistem percepatan telah menghilangkan sebuah proses pendewasaan pikiran. Sebuah cerita ketika seorang mahasiswa asing ( mahasiswa dari luar jepang) ingin melanjutkan pendidikan jenjang kuliah di universitas saga dan telah mendapat persetujuan dari profesor setempat sesuai bidangnya. Akan tetapi karena mengikuti program sistem akselerasi ternyata harus menyelesaikan pendidikan dasar 6 tahun dan menengah 6 tahun untuk bisa mengikuti pendidikan jenjang kuliah di jepang. Satu nilai tambah lagi yang saya peroleh dari cerita tersebut adalah kekonsistensian jepang dalam menerapkan apa yang telah menjadi kesepakatan dalam hukum sebuah negara.
Kemudian cerita dari saya sendiri adalah ketika harus menerima sedikit ” wejangan” dari dosen ketika menyelesaikan masalah dengan cara singkat atau rumus the king menurut GO. ada baiknya sebagian besar orang yang berfilosofi ” yang penting hasil bukan proses” merubah filosofi ini karena berdampak buruk pada mental kehidupan sehari hari. Karena bagaimanapun juga sesuatu yang diperoleh dengan proses percepatan hasilnya pasti akan jauh dari kata baik.
Kisah lainnya adalah kisah kupu kupu yang di tolong seorang manusia ketika proses keluar dari bungkus kepompong. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam kisah kupu kupu ini. Si kupu kupu ingin bermetamorfosis dan si manusia ingin menolong. Akan tetapi ada sebuah proses yang diabaikan untuk sebuah hasil.
Oleh karena itu, belajar memahami proses adalah belajar untuk menimbulkan kesadaran. Dan belajar untuk memahami proses juga merupakan perjalanan pendewasaan. Seperti halnya kedewasaaan masyarakat jepang dalam menyikapi kenaikan harga minyak dunia. Dan masyarakat indonesia juga harus belajar dari jepang untuk menjadi dewasa. Jepang sebagai negara tak bersumber daya alam tapi sangat membutuhkan minyak yang mana sebagai elemen utama dalam penggerak perindustrian tentu bisa dibayangkan kondisinya ketika menghadapi kenaikan harga minyak. Dan kenyataannya adalah jepang memiliki masyarakat yang dewasa dalam berfikir menyikapi kelonjakan harga minyak.
Negara kaya, hutan menghijau, sawah terbentang, gemah ripah loh jenawi sangat di sayangkan sekiranya memiliki masyarakat yang belum dewasa bahkan sangat disayangkan malah mengatasnamakan democrazy untuk sebuah tindakan.
Dewasalah wahai saudaraku
Dewasalah wahai negeriku
Dewasalah Indonesiaku.
by dani hidayat
owner3tokoshafiyya&founderTEM
Filed under: sastra | 2 Comments »
Posted on June 29, 2008 by danihidayat
Sedih dan kasihan adalah ungkapan yang aku rasakan atas keherananku melihat kejadian yang banyak sekali terjadi di bumi ciptaan Sang Maha Pencipta. Dan aku seakan akan merasakan bahwa bumi ini telah banyak berubah hasil dari buah pikiran manusia. Perubahan yang itu tidak akan pernah kita rasakan sekiranya kita sendiri melihatnya dari dalam dan tanpa dibekali sebuah perbandingan. Seperti halnya teori Relativitas Einsten yang mengajarkan bagaimana melihat sesuatu yang bergerak dari sebuah kondisi yang juga bergerak.
Banyak hal yang tidak bisa aku pahami. Banyak kejadian yang tidak bisa aku mengerti. Aku melihat manusia manusia kaya terus menerus mengumpulkan kekayaan tanpa mengenal rasa cukup. Aku juga melihat manusia manusia miskin yang terus menerus mengeluh serba kekurangan seperti tak pernah kenal dengan kata syukur. Kusaksikan manusia menghalalkan segala cara untuk sebuah cita cita. Apakah penglihatanku ini salah ataukah memang semua telah berganti menjadi sebuah kebiasaan baru dalam masyarakat yang disebut dengan modernisasi.
Aku tahu waktu terus berjalan. Terus dan terus tanpa berhenti. Dan waktu telah menjadi pengantar manusia mencapai ambisi. Sedangkan disatu sisi jarang sekali aku melihat keadilan. Keadilan telah menjadi barang dagangan. Telah hilang wibawa seorang jaksa, hakim tak mendapat kepercayaan dan telah mati karakter pengayom masyarakat. Yang ada hanyalah kekuatan. Hukum rimba menjadi acuan. Memakan mangsa yang lemah lagi tak berkuasa. Dan aku rasakan semua hanyalah permainan dalam kesewenang- wenangan. Aku berharap semua hanya perasaan dan dugaan dari hati yang haus akan keadilan.
Tapi dengan semua itu, apakah aku masih bisa percaya dengan zaman?
Dan apakah aku masih bisa berteman dengan peradaban?
Kepalaku penuh dengan pertanyaan, karena zaman ini telah melahirkan banyak sekali perubahan.
Akankah bumi ini penuh dengan kebohongan. sehingga kejujuran telah terbungkus dalam kebohongan. Adakah kejujuran yang terbungkus dalam kebohongan? Aku sendiri tak akan bisa menjelaskan tapi itu yang aku rasakan. Aku semakin heran mengapa sudah sedikit sekali aku temukan keikhlasan.Mungkin aku juga akan larut dalam peradaban. Mungkin aku juga akan tenggelam dalam kabut pemikiran yang samar samar di dalam kesalahan. Sekarang aku sedang terombang ambing bersama bahtera di laut kehidupan. Mungkin hanya aku yang berbeda pikiran.
Sekarang aku sulit untuk memberi kepercayaan dan hanya egoisme yang aku terapkan. Aku harus belajar pula untuk tidak perduli. Apakah ini yang disebut dengan individualis? Aku tak mau tahu. Lingkungan telah menempa diriku untuk tetap bertahan. Bukankah bertahan juga sebuah bentuk perjuangan. Tapi sampai kapan aku harus bertahan? Aku tak punya cukup waktu untuk terus menunggu. Dan aku paling benci dengan menunggu. Mungkin sudah saatnya aku harus melakukan penyerangan. Penyerangan ke arah perubahan karena menunggu dan bertahan hanya buat mereka yang tak punya keberanian.
Filed under: dapur naskah | No Comments »
Posted on June 20, 2008 by danihidayat
Kemampuan Negeri Tirai Bambu dalam meniru dan memproduksi barang tiruan bisa dikatakan telah mencapai tingkat yang luar biasa. Dengan prinsip mereka “Kami bisa meniru apa saja” telah menjadikan negeri china sarat dengan barang tiruan mulai dari DVD hingga kendaraan roda empat. Dan di kota Shanghai sendiri menurut berita yang tersebar, telah mencapai 90% barang yang beredar dipasaran adalah barang ciptaan hasil dari proses peniruan.
Bahkan dengan tidak tanggung tanggung China juga telah berhasil membuat telor palsu dengan meniru telor yang diproduksi ayam penetas. Dan harga dari telor tiruan itu tentunya lebih murah dari harga telor yang asli.
Keinginan Negeri Dragon menguasai pasar dunia dengan harga murah juga telah kita lihat dalam hal produk ponsel dan kendaraan. Ponsel yang baru saja di rilis oleh perusahaan besar pembuat ponsel dalam waktu yang singkat bisa ditiru, diproduksi lalu di jual dipasaran.
Mobil, sebuah produk yang menggambarkan kompleksitas buah hasil pikiran dan kreatifitas tangan manusia. Terbuat dari berbagai macam material yang berbeda yang di bentuk dan dirangkai menjadi sebuah kendaraan ternyata juga telah menjadi bahan tiruan.Tidak lama, hanya membutuhkan waktu 6 bulan untuk membuat tiruan sebuah mobil,seperti kasus VW Beetles dan Cherry QQ yang pada saat itu awal dari masuknya mobil ke dalam Market Perekonomian China. Yang lambat laun memproduksi mobil tiruan telah menjadi inti dari produksi kendaraan roda empat di China.
Honda CR-V telah dikopi paste dan dikenal dengan nama SR-V adalah sebuah contoh hasil tiruan China
dalam dunia kendaraan yang bisa kita lihat pada saat ini. Tidak hanya desain Honda yang di kopi paste tapi Mercedez, Toyota dan Nissan dan banyak lagi perusahaan-perusahaan lain telah menjadi korban
dari prinsip “Kami bisa meniru apa saja”. Dan prinsip ini didukung oleh ketidak-kuatnya hukum China dalam hal Hak Cipta dan Hak Paten.
Pada umumnya perusahaan perusahaan yang melakukan teknologi kopipaste ini memproduksi dalam jumlah yang kecil dan bisa menjual dengan harga dibawah standar biaya produksi untuk sebuah kendaraan. Teka teki yang muncul adalah,Apakah mereka lebih mementingkan Penguasaan Market meskipun dengan mengambil resiko rugi ataukah dibalik itu tersembunyi sebuah rahasia besar untuk melakukan sebuah revolusi dalam Dunia Cipta.”Iya” atau “Tidak” hanya waktu yang akan menjawabnya.
Oleh Dani Hidayat
founderTEM and owner3tokoshafiyya
sumber: The Modern Day Pirates of China by Kenneth Wong
Filed under: dapur naskah | No Comments »